TUGAS PERKEMBANGAN
1. PADA BAYI/MASA KANAK KANAK
Masa bayi berlangsung selama dua tahun pertama kehidupan setelah periode bayi baru lahir selama dua minggu. Masa bayi sering dianggap sebagai keadaan tidak berdaya dimana bayi setiap hari belajar untuk semakin mandiri, sehingga diakhir masa bayi dikenal sebagai anak kecil yang baru belajar berjalan. Sedangkan anak kecil biasa diasosiasikan dengan keadaan anak yang sudah dapat berjalan dan menguasai beberapa ketrampilan mandiri. Masa bayi adalah masa dasar yang sesungguhnya, meskipun seluruh masa anak-anak merupakan masa dasar. Banyak ahli berkeyakinan demikian, seperti Freud yang percaya bahwa penyesuaian diri yang kurang baik pada masa dewasa bermula dari pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang kurang baik (Freud, 1962). Kemudian Erikson (1964) juga percaya bahwa cara bayi diperlakukan akan menentukan
apakah ia akan mengembangkan ‘dasar percaya’ atau ‘dasar tidak percaya’, memandang dunia sebagai suatu yang aman dan dapat dipercaya, atau sebaliknya sebagai ancaman.
Ada beberapa tugas perkembangan masa bayi dan awal masa kanak-kanak yang dikemukakan oleh seorang tokoh psikologi perkembangan Havighurst(1972):
•Belajar makan makanan padat
•Belajar berjalan
•Belajar berbicara
•Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
•Mempelajari perbedaan peran seks
•Mempersiapkan diri untuk membaca
•Belajar membedakan benar dan salah, mulai mengembangkan hati nurani.
Ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan dalam membantu bayi dan anak-anak mencapai beberapa ketrampilan, misalnya kita sebagai orangtua cukup dalam member bimbingan, motivasi, dan memberi kesempatan sepenuhnya agar anak mampu melakukan tugas perkembangannya. Hal lain yang diperlukan agar anak mampu mencapai tugas perkembangannya adalah kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh, tingkat kecerdasan dan kreativitas. Sebagai catatan, seandainya anak memiliki kesehatan yang kurang baik, atau bahkan memiliki cacat tubuh, atau tingkat kecerdasan dibawah rata-rata maka sebaiknya orangtua tidak menuntut anak untuk menjadi sama
seperti anak-anak seusianya melainkan membantu anak secara konstruktif agak anak dapat berkembang seoptimal mungkin. Ada salah persepsi tentang belajar membaca pada sebagian besar orangtua, atau bahkan para pendidiknya juga, bahwa anak-anak seharusnya dipersiapkan untuk
membaca pada masa sekolah (masa Sekolah Dasar/Elementary School/Grund Schule).
Di beberapa negara di Eropa, di Jerman khususnya, orangtua justru mendapat teguran dari pihak Kindergarten (Taman Kanak-kanak) jika anaknya sudah dapat membaca. Hal ini tentu bukanlah tanpa alasan, karena pihak pendidik sudah menyadari arti penting bermain pada masa ini, dan dalam bermain banyak hal yang akan tercapai, termasuk didalamnya persiapan membaca ini.
Perkembangan Bicara
Bicara merupakan sarana berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, minimal ada dua ketrampilan yang perlu dikuasai; kemampuan menangkap ‘pesan’ dari orang lain dan kemampuan menyampaikan ‘pesan’ kepada orang lain. Komunikasi ini diungkapkan dalam berbagai macam bahasa: lisan, tertulis, bahasa isyarat tangan, mimik, dsb.
Tugas pertama dalam berkomunikasi adalah memahami maksud orang lain dan menyampaikan maksud mereka dalam bentuk kata-kata sesuai dengan tahap perkembangannya. Sampai dengan usia 18 bulan bayi masih membutuhkan penguatan bahasa isyarat baik dengan tangan, mimik muka, serta gerak tubuh untuk memahami komunikasi.
Tugas kedua dalam berkomunikasi adalah belajar berbicara. Karena belum mampu berbicara, bayi mengembangkan pola komunikasi dengan cara mereka sendiri yang disebut bentuk-bentuk prabicara (menangis, mengoceh, isyarat dan pengungkapan emosi). Jika bentuk komunikasi prabicara ternyata menjadi pengganti bicara dan ternyata memuaskan, maka motivasi bayi/anak kecil untuk belajar bicara menjadi menurun. Setidaknya ada tiga tugas yang cukup sulit dalam belajar berbicara pada bayi. Bayi belajar mengucapkan kata-kata, menggunakan kosa kata dan menghubungkan artinya agar dapat menyampaikan maksudnya kepada orang lain, kemudian menggabungkan kata-kata menjadi kalimat yang dimengerti orang lain.
Ada beberapa tugas yang terlibat dalam belajar bicara
•Pengucapan
Bayi belajar mengucapkan kata-kata dengan coba-coba dengan meniru orang dewasa. Banyak kata yang kurang berarti sampai dengan usia 18 bulan, tapi setelah itu akan terlihat perkembangan yang mencolok.
•Kosa kata
Kosa kata ini meningkat dengan bertamabahnya usia. Pertama diawali dengan nama orang dan benda, kemudian kata kerja.
•Kalimat
Kalimat bayi yang pertama muncul biasa terjadi diantara usia 12 dan 18 bulan, yang terdiri satu kata dan disertai isyarat.
Pola Emosi Pada Bayi
Pola emosi pada bayi didominasi dengan emosi menyenangkan dan emosi yang tidak menyenangkan. Bayi yang mendapat perawatan fisik yang memadai, mendapatkan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya akan menunjukkan emosi senang. Sedangkan kondisi sebaliknya membuat bayi menunjukkan emosi tidak senang, sering menangis karena marah atau takut, dalam kondisi tertentu menjadikan bayi tidak bahagia atau bahkan sakit-sakitan. Kondisi yang demikian juga mempengaruhi kebahagiaan orangtua atau orang-orang di sekitarnya. Dalam kondisi tertentu, orangtua menjadi tidak sabar, merasa proses merawat bayi menjadi beban bagi mereka, reaksi emosi tidak senang atau tidak sabar dari orangtua ini selanjutnya juga berpengaruh terhadap emosi bayi.
Perkembangan Sosialisasi
Pengalaman sosial pada masa ini banyak mempengaruhi pola hubungan sosial dan pola perilaku di masa depan. Hanya ada sedikit bukti bahwa sikap sosial dan antisocial merupakan sikap bawaan. Bahkan seseorang menjadi introvert atau ekstrovert lebih banyak dipengaruhi pengalaman-pengalamam sosial awal, dimana ha lini banyak terjadi dalam rumah.
Alasan lain mengapa dasar-dasar sosial pada masa ini penting adalah sekali terbentuk cenderung akan menetap pada masa-masa berikutnya. Bayi yang banyak menangis cenderung menjadi anak yang agresif atau mencari perhatian. Sebaliknya bayi yang ramah dan bahagia biasanya memiliki penyesuaian sosial yang lebih baik pada masa besarnya nanti. Perlu dicatat bahwa mungkin saja dilakukan perubahan, tetapi tidaklah mudah mengadakan perubahan pada pola perilaku yang sudah menetap.
Reaksi sosial kepada orang dewasa (Hurlock, 1980)
2-3 bulan: mampu membedakan manusia dan benda mati, tahu bahwa manusialah yang memenuhi segala kebutuhannya, tidak suka ditinggal sendiri, tidak menunjukkan rasa suka terhadap satu orang tertentu.
4-5 bulan: bayi suka digendong oleh siapa saja, memberi reaksi yang berbeda terhadap wajah yang tersenyum, suara yang ramah, atau suara yang menunjukkan kemarahan.
6-7 bulan: mampu membedakan “teman” dan “orang asing” sehingga menunjukkan reaksi tersenyum kepada teman, dan menunjukkan rasa takut kepada orang asing. Sudah ada keterikatan yang kuat terhadap ibu atau pengganti ibu.
8-9 bulan: mencoba meniru kata-kata, isyarat atau gerakan sederhana dari orang lain.
12 bulan: bayi bereaksi terhadap larangan.
16-18 bulan: muncul negativisme dalam bentuk keras kepala dan tidak mau mengikuti permintaan atau perintah orang dewasa, bisa berupa perilaku menarik diri atau ledakan amarah.
22-24 bulan: mulai bekerjasama dalam kegiatan rutin seperti makan, berpakaian dan mandi.
Reaksi sosial terhadap bayi lain
4-5 bulan: menarik perhatian bayi lain dengan menggerakkan badan, bermain ludah, menendang atau tertawa.
6-7 bulan: tersenyum pada bayi lain dan menunjukkan minat pada tangisan bayi lain.
9-13 bulan: mencoba memegang pakaian dan rambut bayi lain, mencoba bekerjasama dalam bermain, tetapi bingung jika mainannya diambil bayi lain.
18-24 bulan: berminat bermain dengan bayi lain, menggunakan mainan untuk
membentuk hubungan sosial.
Perkembangan Bermain
Ada beberapa pola bermain yang umum dari masa bayi:
o Sensomotorik, merupakan bentuk permainan yang paling awal yaitu dengan gerakan mengangkat tubuh, menendang, bergoyang-goyang, menggerakkan jari jemari, berceloteh dan berguling.
o Menjelajah, baik dengan menjelajahi bagian-bagian tubuhnya maupun benda-benda yang ada di sekitarnya.
o Meniru, menginjak tahun kedua bayi mulai meniru gerakan-gerakan orang di sekitarnya seperti membaca, menyapu, dll.
o Berpura-pura, pada tahun kedua bayi memberikan sifat hidup pada bendakesayangan dan mainannya.
o Permainan, sebelum berusia satu tahun bayi sudah menyukai permainan sembunyisembunyian,
ciluk-ba, dsb., yang dilakukan dengan orang dewasa atau kakakkakaknya.
o Hiburan, bayi senang diceritai, dinyanyikan dan dibacakan dongeng.
Peranan Disiplin dalam Masa Bayi
Disiplin ditegakkan dengan tujuan mengajarkan pada anak apa yang dianggap oleh kelompok sosialnya benar atau salah, agar anak berperilaku sesuai pengetahuan anak tentang benar dan salah. Mula-mula pengendalian dari luar, dan selanjutnya diharapkan pengendalian dari dalam diri ketika ia sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya kelak. Selama masa ini, bayi harus belajar melakukan reaksi yang benar terhadap berbagai situasi. Tindakan yang salah selamanya harus dianggap salah tidak peduli siapa pengasuhnya. Harus ada konsistensi mengenai hal ini, karena kalau tidak, bayi akan bingung tentang apa yang diharapkan darinya. Pertama bayi harus tahu mana tindakan yang benar dan mana yang salah. Meskipun bayi belum mengerti sepenuhnya pembicaraan, namun mereka menangkap maksud orangtua atau orang di sekelilingnya melalui mimik muka, gerakan tangan, tubuh atau suara-suara. Harus diingat bahwa dalam aspek pendidikan disiplin, dalam hal ini mengajar bayi menguasai benar dan salah, diikuti dengan memberi hadiah berupa pujian dan perhatian terhadap perilaku yang tepat daripada memberi hukuman jika bayi berbuat salah. Dengan pemberlakuan disiplin yang ketat, bayi yang muda belia ini dapat dilatih melakukan suatu pola yang tidak menyulitkan orangtua, terutama dalam menghadapi masa sulit tahun kedua dimana dia membantah permintaan dan perintah orang-orang
disekitarnya.
Kebahagiaan dalam Masa Bayi
Tahun pertama kehidupan dipandang sebagai masa yang paling bahagia sepanjang rentang kehidupan. Hal ini disebabkan ketergantungan bayi menarik perhatian anak yang lebih besar, ibu atau orang dewasa tertarik menggendong atau memenuhi segala kebutuhannya, bahkan membiarkannya menangis atau beberapa perilaku mengganggu lainnya.
Ada beberapa sebab-sebab ketidakbahagiaan selama masa bayi, misalnya kesehatan yang buruk (membuat bayi rewel dan mudah marah), tumbuhnya gigi (rasa tidak enak atau kadang-kadang rasa sakit menyebabkan anak rewel dan mudah marah), keinginan mandiri (dengan menolak bantuan orang lain atau bahkan mogok), kecewa akan peran orangtua, permulaan disiplin, penganiayaan anak, dan meningkatnya kebencian antarsaudara (sibling rivalry).
•Awal Masa Kanak-kanak
Sebagian besar orangtua memandang masa ini sebagai usia yang mengandung masalah atau usia sulit, seringkali dengan munculnya masalah perilaku daripada masalah perawatan fisik yang ada pada masa bayi. Sedangkan para pendidik menyebut masa ini dengan usia prasekolah untuk membedakannya dari anak yang sudah cukup matang untuk pergi ke sekolah. Anakanak
yang mengikuti taman indria atau taman kanak-kanak disebut anak-anak prasekolah, bukan anak-anak sekolah. Awal masa kanak-kanak, baik di rumah maupun di lingkungan prasekolah, merupakan masa persiapan. Para ahli psikologi menyebut usia ini dengan usia kelompok, masa dimana anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial untuk persiapan penyesuaian diri pada saat
masuk sekolah. Masa ini disebut juga sebagai usia menjelajah, dimana anak belajar menguasai dan mengendalikan lingkungan, termasuk manusia dan benda mati yang ada disekitarnya. Termasuk didalamnya bagaimana perasaannya dan mekanismenya. Salah satu cara untuk menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya, sehingga masa ini disebut juga usia bertanya. Tindakan yang menonjol pada anak-anak usia ini adalah meniru tindakan dan pembicaraan orang lain sehingga disebut usia meniru. Meskipun kecenderungan meniru ini cukup kuat tetapi disisi lain anak menunjukkan kreativitas dalam bermain sehingga adisebut juga sebagai usia kreatif.
Tugas Perkembangan Awal Masa Kanak-kanak
Ada beberapa tugas perkembangan yang harus dicapai oleh anak, antara lain perkembangan fisik, kebiasaan fisiologis dan ketrampilan-ketrampilan khusus awal masa kanak-kanak. Dalam seminar kali ini saya tidak membicarakan perkembangan fisik karena sudah ada ahli yang membahasnya. Kebiasaan fisiologis sedikit saja saya singgung misalnya kebiasaan tidur dimana anak usia 3 tahun biasanya tidur sepuluh jam sehari, dan untuk tahun-tahun berikutnya berkurang rata-rata setengah jam setiap tahun usia. Hal ini berkaitan dengan banyaknya latihan dan kegiatan yang dilakukan pada siang hari. Kemudian kebiasaan makan termasuk didalamnya anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai atau tidak disukai, Kebiasaan lain yang harus dikuasai anak adalah toilet training. Melewati masa bayi, pada usia 3 atau 4 tahun anak seharusnya sudah dapat mengendalikan pembuangan kotorannya, termasuk tidak mengompol pada malam hari (Hurlock, 1980). Ketrampilan khusus pada awal masa kanak-kanak meliputi ketrampilan tangan dan kaki,
terutama ketrampilan berbicara. Ketrampilan tangan yang menyangkut berpakaian dan makan sendiri dimulai sejak masa bayi dan disempurnakan selama awal masa kanak-kanak. Kemajuan pesat biasanya terjadi pada usia 1,5 s/d 3,5 tahun yaitu mampu menyisir rambut dan mandi.
Pada usia taman kanak-kanak sudah harus mampu mandi dan berpakaian sendiri, mengikat tali sepatu dan menyisir rambut, baik dengan sedikit bantuan atau tanpa bantuan sama sekali (Hurlock, 1980). Ketrampilan kaki meliputi berjalan, dan semua hal yang berkaitan dengan kaki. Usia lima
atau enam tahun anak belajar melompat dan berlari cepat. Usia 3-4 tahun, naik sepeda roda tiga dan berenang dapat dipelajari. Ketrampilan lainnya meliputi keseimbangan tubuh, menari, sepatu roda, lompat tali, dsb. Terdapat perbedaan ketrampilan yang dipelajari anak-anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki didorong mempelajari permainan yang dianggap lebih sesuai seperti main bola, atau menyusun bangunan dengan lego, sedangkan anak-anak perempuan didorong untuk mempelajari permainan yang berkaitan dengan ketrampilan perawatan rumah tangga seperti memasak atau bermain dengan boneka barbie.
Kemajuan Berbicara
Setelah ulangtahunnya yang kedua, anak mulai meninggalkan komunikasi prabicara
yang sangat berperan selama masa bayi. Periode mengoceh juga telah berlalu. Anak
lebih banyak belajar bicara, meskipun isyarat banyak digunakan sebagai pelengkap
pembicaraan. Misalnya saja anak menyebut pipis dengan memegang celana.
Peningkatan pengertian
Untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain, anak harus mengerti apa yang dikatakan
orang lain. Jika tidak maka akan merusak kontak sosial anak. Kemampuan mengerti ini
sangat dipengaruhi cara anak mendengarkan apa yang dikatakan kepadanya.
Mendengarkan radio dan televisi ternyata sangat membantu karena anak belajar
mendengar dengan penuh perhatian. Berbicara kepada anak dengan jelas, lambat dan
dengan menggunakan kata-kata yang dimengerti anak sesuai usianya juga sangat
membantu. Sebaliknya berbicara terlalu cepat, menggunakan kata-kata majemuk dan
bercampur kata-kata asing membuat anak menjadi bingung dan tidak bersemangat
karena anak tidak mengerti isi pembicaraan.
Tugas dalam belajar bicara dalam masa kanak-kanak:
•Pengucapan kata-kata.
Anak-anak sulit mengucapkan huruf seperti z, w, d, s, g, dan kombinasi huruf seperti
st, str, dr dan fl. Mendegarkan radio dan televisi dapat membantu anak
mengucapkan kata-kata yang benar.
•Menambah kosa kata
Kosa kata meningkat pada masa ini, terutama berkaitan dengan baik dan buruk,
memberi dan menerima, bilangan dan warna-warna.
•Membentuk kalimat
Kalimat dengan tiga atau empat kata sudah mulai disusun anak usia dua tahun dan
biasa disusun anak usia tiga tahun. Kalimat ini banyak yang tidak lengkap, misalnya
kurang kata kerja. Setelah usia tiga tahun anak dapat membentuk kalimat dengan 6-
8 kata.
Isi Pembicaraan
Pada mulanya isi pembicaraan bersifat egosentris atau berbicara tentang dirinya,
keluarga atau minatnya. Menjelang akhir awal masa kanak-kanak anak mulai berbicara
tentang orang lain dan bersifat sosial. Hal ini seiring dengan bertambah besarnya
kelompok bermainnya. Ada bukti bahwa kelompok sosial yang lebih kecil lebih baik bagi
perkembangan bicara anak daripada anak dengan kelompok sosial yang lebih besar
(Krauss, 1977; Kuczaj, dkk., 1975; Maratsos, 1973). Anak juga mulai belajar mengkritik,
mengeluh dan berkomentar buruk.
Jumlah Bicara
Pada masa ini anak-anak dikenal sebagai tukang ngobrol, karena sekali anak dapat
berbicara maka tak henti-hentinya ia berbicara. Sebaliknya ada anak-anak yang
tergolong pendiam.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi banyaknya anak berbicara.
•Inteligensi. Semakin cerdas anak semakin cepat ketrampilan berbicara ini
dikuasainya.
•Jenis disiplin. Anak-anak yang dibesarkan dengan disiplin yang lemah cenderung
lebih banyak bicara daripada anak yang dibesarkan dengan disiplin otoriter.
•Posisi urutan kelahiran. Anak sulung didorong untuk lebih banyak bicara daripada
adiknya.
•Besarnya keluarga. Anak tunggal banyak didorong untuk berbicara dan lebih banyak
didengar.
•Status sosial ekonomi. Dalam keluarga status ekonomi rendah, kegiatan keluarga
cenderung kurang terorganisasi sehingga pembicaraan antar anggota keluarga juga
jarang dan anak kurang didorong untuk berbicara.
•Status ras. Kemampuan bicara anak kulit hitam kebanyakan kurang baik. Hal ini
dikarenakan ayah yang jarang di rumah atau ibu terlalu sibuk bekerja.
•Berbahasa dua. Meskipun dalam keluarga berbahasa dua tidak ada pembatasan
dalam berbicara, biasanya anak menjadi terbatas pembicaraannya.
•Penggolongan peran-seks. Ada pengaruh penggolongan peran-seks pada
pembicaraan anak. Anak laki-laki diharapkan berbicara lebih sedikit daripada anak
perempuan. Membual dianggap wajar untuk anak laki-laki, dan wajar bagi anak
perempuan bila mengadukan orang lain.
Perkembangan Emosi
Anak-anak juga mengalami hampir semua jenis emosi yang dialami orang dewasa
seperti amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih dan kasih sayang.
Yang berbeda terletak pada bagaimana mengungkapkan emosi. Emosi sangat kuat
pada usia tertentu dan melemah pada usia yang lain. Ledakan amarah misalnya,
mencapai puncaknya antara usia 2-4 tahun, setelah itu amarahnya berlangsung sejenak
atau berubah menjadi merajuk. Rasa takut juga seperti itu, pada masa berikutnya
menjadi berkurang karena anak sadar bahwa situasi yang ditakutinya ternyata tidak
menakutkan.
Keingintahuan anak juga sangat berbera-beda. Ternyata anak yang cerdas lebih banyak
menjelajahi lingkungan dan lebih banyak bertanya.
Sosialisasi pada Awal Masa Kanak-kanak
Masa ini disebut sebagai masa prakelompok, dimana dasar sosial diletakkan dengan
semakin meningkatnya hubungan anak dengan teman-teman sebayanya. Anak yang
lebih menyukai interaksi dengan manusia daripada dengan benda akan
mengembangkan pola hubungan sosial yang lebih baik di masa depan, dan biasanya
menjadi lebih populer daripada anak yang interaksi sosialnya terbatas.
Pada masa ini umumnya anak lebih menyukai berteman dengan sesama jenis kelamin
daripada dengan lawan jenis.
Pada usia 2-3 tahun anak bermain dengan teman-temannya tetapi bermain sendiri, yang
dikenal dengan bermain sejajar (Havighurst, 1980). Kadang kalaupun terjadi kontak,
lebih cenderung pada perkelahian daripada kerjasama. Selanjutnya anak bermain
asosiatif, yaitu anak terlibat dalam kegiatan yang menyerupai permainan anak lain.
Semakin meningkat kontak sosial, anak dapat bermain kooperatif dimana masingmasing
anggota kelompok saling berinteraksi.
Teman-teman
Dalam semua tahapan perkembangan, teman-teman ini terbagi menjadi tiga yaitu
teman, teman bermain dan teman baik.
Teman atau rekan adalah orang yang memuaskan kebutuhan akan teman dalam
lingkungan yang sama, bisa laki-laki atau perempuan, tidak terdapat interaksi yang
intensif diantara mereka.
Teman bermain adalah orang yang terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan. Anak
lebih menyukai teman bermain yang sejenis.
Teman baik bukan hanya teman bermain tetapi teman yang dapat berkomunikasi dan
saling bertukar pendapat dan nasehat. Sepanjang masa kanak-kanak dan remaja,
teman baik biasanya teman sejenis yang memiliki minat dan nilai yang sama.
Pola Bermain pada Awal Masa Kanak-kanak
•Bermain dengan mainan
Pada permulaan awal masa kanak-kanak bermain dengan mainan merupakan
bentuk dominan. Seiring dengan meningkatnya kontak sosial dan sadarnya anak
bahwa mainannya tidak mempunyai sifat hidup lagi maka bermain sendiri menjadi
tidak menyenangkan lagi.
•Drama/teater
Usia tiga tahun anak mulai melakukan permainan ini dengan berdasarkan
pengalaman, dongeng-dongeng yang didengarnya, atau film-film yang pernah
dilihatnya.
•Konstruksi
Anak-anak membuat konstruksi dari balok, pasir, tanah liat, dll. Biasanya
berdasarkan apa yang dilihatnya.
•Permainan
Pada usia empat tahun anak-anak lebih suka bermain dengan teman sebaya
daripada dengan orang dewasa. Bentuk permainannya pun sudah mengenal
peraturan.
•Membaca
Anak suka dibacakan dongeng atau melihat gambar-gambar.
•Film, radio dan televisi
Anak lebih menyukai televisi daripada radio. Film kartun, film tentang anak-anak
prasekolah atau anak yang lebih besar, atau film tentang anggota keluarga sangat
menarik perhatian anak-anak.
Perkembangan Pengertian
Perkembangan pengertian berkembang sangat pesat karena kemampuan berbicara
yang lebih baik, meningkatnya kemampuan menjelajah, bertambahnya koordinasi
motorik, serta meningkatnya kemampuan bertanya dengan menggunakan kata-kata
yang lebih baik.
Anak-anak mulai memperhatikan hal-hal kecil yang semula tidak menjadi perhatiannya,
sehingga anak-anak tidak mudah bingung menghadapi benda-benda, situasi atau
orang-orang. Anak mengembangkan konsep yang lebih khusus dan berarti bagi dirinya.
Piaget menamakannya tahap berpikir praoperasional, suatu tahap yang berlangsung
dari usia dua atau tiga tahun sampai dengan delapan tahun.
Disiplin dalam Masa Kanak-kanak
Ada tiga unsur yang berperan dalam penegakan disiplin: aturan main, hadiah dan
hukuman. Aturan main adalah peraturan yang ditetapkan sebagai pedoman penilaian
yang baik. Sebelum melatih anak berdisiplin yang pertama dipastikan adalah anak
mengetahui aturan main nya. Tanpa aturan main anak menjadi bingung dan mengalami
kesulitan memahami peran yang harus dilakukannya. Kemudian untuk menguatkan
tindakan yang dilakukan anak maka diberikan hadiah (bisa berupa benda ataupun
bentuk-bentuk pujian dan belaian kasih sayang, diajak pergi, dsb.) bagi perilaku yang
baik dan hukuman bagi perilaku yang melanggar peraturan. Hendaknya hukuman fisik
tidak digunakan, karena pengaruhnya yang kurang baik terhadap anak. Hukuman bisa
berupa larangan menonton televisi, time-out, dsb. Time-out adalah mengucilkan anak
dari situasi yang menjadi konflik, satu menit untuk setiap tahun usia. Perlu dicatat bahwa
mengucilkan disini bukan berarti dikurung di kamar, tetapi dengan persetujuan anak kita
menetapkan hukuman jika anak melanggar aturan main dia bisa berdiri atau duduk di
suatu tempat sesuai waktu yang ditetapkan. Misalnya anak berusia 4 tahun, maka anak
harus di-time-out selama 4 menit, dst.
Jenis-jenis disiplin
•Disiplin otoriter. Sering disebut disiplin tradisional, anak harus mengikuti perintah
orangtua, baik masuk akal atau tidak. Hukuman fisik menyertai disiplin ini,
dengan dasar bahwa “menghemat cambukan berarti memanjakan anak”,
sehingga anak tidak patuh. Tidak ada penjelasan pada anak-anak mengapa
mereka harus patuh.
•Disiplin yang lemah. Disiplin ini berkembang pada orang-orang dewasa yang
mengalami disiplin otoriter pada masa kecilnya. Mereka berkeyakinan bahwa
anak akan belajar atas perbuatannya dan bagaimana berperilaku secara sosial.
Tidak ada aturan main, hadiah atau hukuman. Akibatnya tiga unsur disiplin tidak
terpenuhi.
•Disiplin demokratis. Disiplin inilah yang sekarang lebih banyak diterapkan.
Penetapan aturan main dibicarakan dengan anak, sehingga anak tahu mengapa
peraturan dibuat dan memperoleh kesempatan mengemukakan pendapatnya.
Hukuman lebih disesuaikan dengan tingkat kejahatan, dan hukumannya tidak
lagi berupa hukuman badan. Penghargaan terhadap perilaku positif banyak
diberikan hadiah terutama dalam bentuk pujian dan pengakuan sosial.
Beberapa kondisi penting yang mendukung kebahagiaan awal masa kanak-kanak
_ Kesehatan yang baik sehingga anak mampu mencapai tugas perkembangannya.
_ Lingkungan yang merangsang anak sangat membantu anak untuk berhasil dalam
berperilaku.
_ Penerimaan dari orangtua atas perilakunya yang kekanak-kanakan, serta adanya
bimbingan dari orangtua untuk belajar berperilaku sosial.
_ Kebijaksanaan yang ditetapkan dalam penegakan disiplin. Anak yang mengetahui
apa yang diharapkan darinya mencegah anak merasa dihukum secara tidak adil.
_ Ekspresi kasih sayang yang wajar, seperti mengungkapkan kebanggaan terhadap
prestasi anak serta meluangkan waktu bersama anak.
_ Harapan-harapan yang realistis yang disesuaikan dengan kondisi anak.
_ Dorongan agar anak kreatif dalam bermain, dan mengurangi cemoohan untuk anak
karena hal tersebut dapat menghambat proses kreatif anak.
_ Perasaan diterima oleh saudara-saudara kandung dan teman-teman bermain.
_ Suasana gembira dan bahagia di rumah, sehingga anak pun ingin mempertahankan
situasi ini untuk masa-masa berikutnya.
Tugas-Tugas Perkembangan Anak
Salah satu dasar untuk menentukan apakah seorang anak telah mengalami perkembagan dengan baik adalah memulai apa yang disebut dengan tugas-tugas perkembangan atau Development Task. Tugas perkembangan masa anak menurut Munandar (1985) adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsep-konsep yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain serta belajar membedakan baik dan buruk.
Menurut Havighurts (dalam Gunarsa, 1986) tugas-tugas perkembangan pada anak bersumber pada tiga hal, yaitu : kematangan fisik, rangsangan atau tuntutan dari masyarakat dan norma pribadi mengenai aspirasi-aspirasinya. Tugas-tugas perkembangan tersebut adalah sebagai berikut: tugas-tugas perkembangan anak usia 0-6 tahun, meliputi belajar memfungsikan visual motoriknya secara sederhana, belajar memakan makanan padat, belajar bahasa, kontrol badan, mengenali realita sosial atau fisiknya, belajar melibatkan diri secara emosional dengan orang tua, saudara dan lainnya, belajar membedakan benar atau salah serta membentuk nurani. Tugas-tugas perkembangan anak usia 6-12 tahun adalah menggunakan kemampuan fisiknya, belajar sosial, mengembangakan kemampuan-kemampuan dasar dalam membaca, menulis, dan menghitung, memperoleh kebebasan pribadi, bergaul, mengembangkan konsep-konsep yang dipadukan untuk hidup sehari-hari, mempersiapkan dirinya sebagai jenis kelamin tertentu, mengembangkan kata nurani dan moral, menentukan skala nilai dan mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial atau lembaga (Havighurts dalam Gunarsa, 1986).
Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1980) tugas perkembangan pada masa anak-anak adalah sebagai berikut:
a) Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
b) Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh.
c) Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
d) Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
e) Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung
f) Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
g) Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai
h) Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga
i) Mencapai kebebasan pribadi.
Perkembangan seorang anak seperti yang telah banyak terurai di atas, tidak hanya terbatas pada perkembangan fisik saja tetapi juga pada perkembangan mental, sosial dan emosional. Tugas-tugas pada masa setiap perkembangan adalah satu tugas yang timbul pada suatu periode tertentu dalam hidup seseorang, dimana keterbatasan dalam menyelesaikan tugas ini menimbulkan perasaan bahagia serta keberhasilan pada tugas berikutnya, sedangkan kegagalan akan menimbulkan ketidak bahagiaan dan kesulitan atau hambatan dalam menyelesaikan tugas berikutnya.
Perkembangan Sosial Anak-Anak
Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial. Menurut Yusus (2002) pada usia anak-anak bentuk-bentuk tingkah laku sosial itu adalah sebagai berikut:
a) pembangkangan (negativisme), yaitu suatu bentuk tingkah laku melawan, tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku melawan merupakan salah satu bentuk dari proses perkembangan tersebut.
b) Agresi (agression), yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi ini merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya) yang dialaminya. Agresi ini mewujud dalam prilaku menyerang, seperti, memukul, mencubit, menendang, menggigit, marah-marah dan mencaci maki.
c) Berselisih atau bertengkar (quarreling), terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan prilaku anak lain, seperti diganggu pada saat mengerjakan sesuatu atau direbut barang atau mainannya.
d) Menggoda (teasing), yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif. Menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan). Sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang diserangnya.
e) Persaingan (rivarly), yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong (distimulasi) orang lain.
f) Kerja sama (cooperation), yaitu sikap mau bekerja sama dengan kelompok. Anak yang berusia dua atau tiga tahun belum berkembang sikap bekerjasamanya, mereka masih kuat sikap self centered-nya.
g) Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior), yaitu sejenis tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness wujud dari tingkah laku ini, seperti meminta, menyuruh dan mengancam atau memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya.
h) Mementingkan diri sendiri (selfishness) yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya.
i) Simpati (Sympaty), yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerja sama dengannya. Seiring dengan bertambahnya usia, anak mulai dapat mengurangi sikap selfish-nya dan dia mulai mengembangkan sikap sosialnya, dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain.
Sedangkan menurut Hurlock (1980 : 81) perilaku sosial anak-anak pra sekolah dapat dikategorikan menjadi dua pola yaitu pola perilaku sosial dan tidak sosial:
a) Pola Sosial 1) Meniru. Agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang yang sangat ia kagumi,
2) Persaingan. Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang-orang lain.
3) Kerjasama. Pada akhir tahun ketiga bermain kooperatif dan kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat dengan baik dalam frekwensi maupun lamanya berlangsung, bersamaan dengan meningkatnya kesempatan untuk bermain dengan anak lain,
4) Simpati. Karena simpati menumbuhkan pengertian tentang perasaan-perasaan dan emosi orang lain.
5) Empati. Seperti halnya simpati, empati menumbuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang lain tetapi di samping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di tempat orang lain.
6) Dukungan Sosial. Menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak, dukungan sosial dari teman menjadi lebih penting daripada persetujuan dari orang-orang dewasa, anak beranggapan bahwa perilaku nakal dan perilaku mengganggu merupakan cara untuk memperoleh dukungan dari teman-teman sebaya,
7) Membagi. Dari pengalaman bersama orang-orang lain, anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetujuan sosial adalah dengan membagi miliknya terutama mainan untuk anak-anak lain, lambat laun sifat diri sendiri berubah menjadi sifat murah hati,
Perilaku Akrab. Anak yang pada waktu bayi memperoleh kepuasan dari hubungan yang hangat, erat dan personal dengan orang lain berangsur-angsur memberikan kasih sayang kepada orang luar rumah, seperti guru taman indria atau benda-benda ini disebut obyek kesayangan.
b) Pola Tidak Sosial 1) Negativisme. Negativisme atau melawan otoritas orang dewasa,
2) Agresif. Perilaku agresif meningkat antara usia dua atau empat tahun,
3) Perilaku Berkuasa. Perilaku Berkuasa atau merajai mulai usia sekitar tiga tahun,
4) Memikirkan Diri Sendiri. Karena cakrawala sosial anak terutama terbatas di rumah, anak-anak seringkali memikirkan diri sendiri, dengan meluasnya cakrawala lambat laun perilaku memikirkan diri sendiri berkurang tetapi perilaku murah hati masih sangat sedikit,
5) Mementingkan Diri Sendiri. Seperti halnya perilaku memikirkan diri sendiri lambat laun diganti oleh minat dan perhatian kepada orang-orang lain, cepatnya perubahan ini bergantung pada banyaknya kontak orang-orang di luar rumah dan berapa besar keinginan mereka untuk diterima teman-temannya,
6) Merusak. Ledakan amarah sering disertai tindakan-tindakan merusak benda-benda di sekitarnya,
7) Pertentangan Seks. Sampai empat tahun anak laki-laki dan perempuan bermain bersama-sama dengan baik, setelah itu anak laki-laki mengalami tekanan sosial yang tidak menghendaki aktivitas bermain yang dianggap sebagai banci banyak anak laki-laki yang berperilaku agresif yang melawan anak-anak perempuan,
Prasangka. Sebagian besar anak pra sekolah lebih suka bermain dengan teman-teman yang berasal dari ras yang sama, tetapi mereka jarang menolak bermain dengan anak-anak dari ras lain. Pada usia pra sekolah (terutama mulai sampai empat tahun), perkembangan sosial anak mulai nampak jelas, karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Menurut Yusus (2002) tanda-tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah:
a) Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan bermain.
b) Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada aturan.
c) Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.
d) Anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain atau teman sebaya (peer group).
2. PADA MASA SEKOLAH
Tugas Perkembangan Pada Masa Usia Pra Sekolah
Havighurst (1961) mengartikan tugas perkembangan adalah merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal maka akan menyebabkan ketidak bahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku atau keterampilan yang seyogyanya dimiliki oleh individu sesuai dengan usia atau fase perkembangan-nya, seperti tugas yang berkaitan dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidupnya. Tugas-tugas perkembangan pada usia 0 sampai 6 tahun adalah sebagai berikut :
1 Belajar berjalan
2 Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin
3 Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis
4 Membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam
5 Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara / orang lain
6 Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk (mengembangkan kata hati).
3. PADA MASA REMAJA
Tugas-tugas perkembangan remaja
Setiap fase perkembangan memiliki tugas-tugas perkembangan. Tugas-tugas perkembangan tersebut merupakan pengharapan atas apa yang akan diakukan oleh seseorang pada masa perkembangannya. Tugas-tugas ini bersifat normatif, on time, dan diharapkan serta diantisipasi oleh individu.
Havighurst (Kimmel, 1995: 15) menawarkan suatu konsep tugas perkembangan yang meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap atau fungsi yang diharapkan dapat dicapai oleh individu pada setiap tahap perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang individu melangkah ke tahapan perkembangan selanjutnya. Apabila seorang individu gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas perkembangan fase selanjutnya. Atau, apabila ia gagal melaksanakan tugas perkembangannya pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya di waktu yang lain, atau melaksanakan tugas perkembangan pada tahapan yang lebih lanjut.
Dengan memahami tugas-tugas perkembangan remaja, maka kita sebagai seorang pendidik atau seorang dewasa yang terlibat dalam penanganan masalah remaja dapat memotivasi remaja dan menolong remaja memenuhi tugas-tugas perkembangannya. Walaupun demikian, janganlah kita sebagai pendidik menempatkan posisi tugas perkembangan ini sebagai suatu paksaan kepada remaja. Segalanya kembali kepada individu tersebut, pada apakah ia telah menyelesaikan tugas-tugas perkembangan tahap sebelumnya dengan baik, dan pada hambatan-hambatan yang dialaminya saat menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya yang sekarang. Apabila kita menganggap tugas-tugas perkembangan itu seperti PR yang harus diselesaikan tepat waktu, dan penuh tekanan. Biarlah sang remaja menyelesaikan sendiri tugas-tugas perkembangannya menurut caranya, sementara kita orang dewasa membantunya bila ia menemui kesulitan dalam menyelesaikan tugas perkembangannya.
Tugas-tugas perkembangan seorang remaja menurut Havighurst adalah sebagai berikut :
1. Mencapai suatu hubungan yang baru dan lebih matang antara lawan jenis yan seusia.
2. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin.
3. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif.
4. Mengharapakan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.
5. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
6. Mempersiapkan karir ekonomi.
7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan utnuk berperilkau dan mengembangkan ideologi.
Seorang remaja dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya dapat dipisahkan ke dalam tiga tahap secara berurutan (Kimmel, 1995: 16). Tahap yang pertama adalah remaja awal, di mana tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya sebagai remaja adalah pada penerimaan terhadap keadaan fisik dirinya dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Hal ini karena remaja pada usia tersebut mengalami perubahan-perubahan fisik yang sangat drastis, seperti pertumbuhan tubuh yang meliputi tinggi badan, berat badan, panjang organ-organ tubuh, dan perubahan bentuk fisik seperti tumbuhnya rambut, payudara, panggul, dan sebagainya.
Tahapan yang kedua adalah remaja madya, di mana tugas perkembangan yang utama adalah mencapai kemandirian dan otonomi dari orang tua, terlibat dalam perluasan hubungan dengan kelompok baya dan mencapai kapasitas keintiman hubungan pertemanan; dan belajar menangani hubungan heteroseksual, pacaran dan masalah seksualitas.
Tahapan yang ketiga adalah remaja akhir, di mana tugas perkembangan utama bagi individu adalah mencapai kemandirian seperti yang dicapai pada remaja madya, namun berfokus pada persiapan diri untuk benar-benar terlepas dari orang tua, membentuk pribadi yang bertanggung jawab, mempersiapkan karir ekonomi, dan membentuk ideologi pribadi yang di dalamnya juga meliputi penerimaan terhadap nilai dan sistem etik.
Demikianlah, penjelasan mengenai tugas-tugas perkembangan remaja sebagai satu bagian dalam memahami remaja sebagai suatu masa transisi. Diharapkan, pada saat ini kita telah sampai pada pemahaman bahwa sesungguhnya masa remaja adalah masa transisi yang menjembatani masa kanak-kanak yang tidak matang ke masa dewasa yang matang. Macam transisi yang berbeda akan membawa pengaruh yang berbeda pula bagi individu yang mengalaminya. Demikian pula dengan bagaimana cara kita melihat transisi tersebut akan mempengaruhi bagaimana kita dapat memahami apa yang dialami dan dirasakan oleh remaja. Selanjutnya, kita akan melihat perubahan dan perkembangan apa yang dialami oleh individu selama masa remajanya.